8 Langkah Meningkatkan Kemampuan Sosialisasi Anak Yang Pemalu

Hai Mom! Apakah si kecil memiliki karakter anak pemalu? Jika mom belum yakin, amati ciri-ciri karakter anak pemalu disini. Jika iya, maka lakukan 8 langkah berikut untuk meningkatkan kemampuan sosialisasi anak.

1. Peka terhadap reaksi anak
Orangtua perlu mengamati bagaimana reaksi anak saat ia berhadapan dengan lingkungan baru dan amati situasi lingkungan saat anak menampilkan reaksi menarik diri. Hal ini perlu dilakukan agar orangtua memahami seberapa besar ketakutan dan kecemasan yang anak rasakan saat ia berada di lingkungan baru dan memahami situasi lingkungan yang seperti apa saja yang dapat memicu munculnya perilaku pemalu. Jika emosi negatif (menangis, marah, tantrum) yang muncul cukup kuat, maka orangtua perlu memeluk anak hingga tenang karena melalui pelukan orangtua maka anak akan mendapatkan rasa aman. Kemudian jelaskan pada anak dengan nada bicara yang lembut bahwa ia aman bersama orangtua dan lingkungan tersebut juga aman bagi dirinya. Peka terhadap reaksi anak, dapat menghindarkan orangtua dari memberikan stimulasi sosial yang berlebihan terhadap anak

2. Hindari memaksa anak untuk berinteraksi sosial
Memaksa anak untuk terjun ke lingkungan baru, bukanlah cara yang efektif bagi semua anak. Apalagi dengan cara mendorong-dorong badannya, memarahi, mengancam atau berlari dan berpura-pura meninggalkannya dengan harapan ia akan menjadi lebih berani. Sebaliknya, beberapa anak bahkan menjadi lebih takut dan bisa saja muncul traumatis tertentu pada situasi sosial, jika ia tidak berada dalam kondisi yang siap untuk menghadapi lingkungan baru tersebut. Oleh karena itu, akan lebih baik jika anak didampingi oleh orang terdekatnya terlebih dulu saat berinteraksi dengan lingkungan baru. Bantu anak untuk memulai pembicaraan dan bermain dengan nyaman, setelah itu orangtua secara bertahap melepas anak untuk sendirian saat berinteraksi dengan orang lain. Orangtua sebaiknya tidak langsung meninggalkan anak secara tiba-tiba. Akan tetapi sebaiknya meminta ijin kepada anak untuk membiarkannya bermain sendiri dengan lingkungan barunya dan meyakinkan anak terkait dimana ia dapat menemukan orangtuanya sewaktu-waktu ia butuhkan. Hal ini dapat membuat anak merasa nyaman dan aman ketika berinteraksi dengan lingkungan baru tanpa pendampingan orangtua.

3. Yakinkan anak untuk melakukan interaksi sosial
Orangtua perlu menunjukkan kepada anak bahwa lingkungan dan orang lain yang baru ia kenal itu menyenangkan sehingga dapat membuatnya merasa nyaman dan aman. Selain itu, yakinkan kepada anak bahwa ia perlu berinteraksi sosial agar ia dapat menikmati permainan atau menyelesaikan tugas tertentu. Jelaskan pada anak terkait perasaan, pikiran dan cara berperilaku orang lain berinteraksi dengan anak. Misalnya, orangtua menjelaskan bahwa anak lain yang mendekatinya dan mengulurkan tangan itu hanya ingin berkenalan dikarenakan ia senang dengan kehadiran anak dan ingin mengajaknya bermain. Hal ini membantu anak untuk lebih memahami situasi sosial yang ada.

4. Hindari memberikan label “pemalu”
Sebaiknya hindari menyebut anak sebagai “pemalu”, memarahi anak ataupun menyebutkan seberapa lucunya anak ketika ia menampilkan perilaku menolak untuk berinteraksi sosial. Hal ini akan semakin memperkuat rasa takut anak untuk melakukan interaksi sosial dan meyakinkan anak bahwa dirinya memang pemalu. Sebaiknya berikan kata-kata positif atau mengajari anak menggunakan “positive self-talk”, seperti “kamu kan, anak yang pemberani ya..”, “ga apa-apa kok salah, kan semua orang juga bisa salah bukan cuma kamu saja, nak”, atau “Tenang, tidak usah takut ya.. ”. Selalu semangati si kecil dan hargai usahanya dalam bersosialisasi dengan lingkungan baru.

5. Berikan pujian saat anak melakukan interaksi sosial
Berikan pujian yang tulus setiap kali anak mulai bersedia berjabat tangan, menyebutkan namanya pada orang lain, bersedia mengikuti kegiatan berkelompok, hingga anak bersedia ditinggalkan oleh orangtua saat bersama orang lain. Tunjukkan bahwa orangtua bangga pada hal-hal kecil yang anak lakukan saat berinteraksi sosial, agar anak dapat menumbuhkan rasa percaya diri dalam melakukan sosialisasi.
“ketika kamu merasa tidak nyaman dengan dirimu sendiri, maka orang lain akan lebih merasa tidak nyaman dengan kehadiranmu”

6. Berikan contoh bagaimana melakukan interaksi sosial yang baik
Orangtua perlu menunjukkan terlebih dulu cara memulai berinteraksi dengan baik kepada orang lain. Misalnya, orangtua menyapa dan berkenalan dengan anak lain terlebih dulu dan meminta anak untuk melakukan hal yang sama (pastikan anak memperhatikan perilaku orangtuanya). Orangtua juga dapat melakukan role-play yang menyenangkan mengenai cara memulai perkenalan, memperkenalkan diri, hingga cara mengajak bermain. Selanjutnya perkenalkan anak dengan orang lain yang terbuka dan menyenangkan. Biarkan anak merasakan rasa nyaman ketika berinteraksi dengan orang tersebut. Hal ini dilakukan agar anak mengetahui bahwa memulai interaksi tidaklah semenakutkan yang ia bayangkan. Orangtua juga mulai membiasakan untuk melakukan kontak mata setiap kali berbicara dengan anak dan meminta anak untuk menyampaikan apa yang ia rasakan, inginkan dan ia pikirkan agar anak terlatih untuk lebih percaya diri saat berbicara dihadapan orang lain.
“kemampuan bersosialisasi yang baik itu tidaklah hanya tentang berinteraksi dengan orang lain, tetapi juga melihat sudut pandang orang lain dan berpikir untuk orang lain”

7. Ajak anak ke berbagai tempat dan bertemu dengan orang baru
Hal ini dapat membantu anak beradaptasi dengan berbagai macam lingkungan dan melatih social skill-nya dalam mengenal serta menghadapi berbagai macam karakter manusia. Mulailah mengajak anak ke tempat bermain dan berkenalan dengan anak lain secara personal (satu per satu). Kemudian ajak anak ke tempat yang tidak terlalu ramai tetapi memfasilitasi anak untuk mempresentasikan dirinya, berinteraksi dan bekerjasama dengan anak lain, serta adanya pendamping yang memperhatikan perilaku anak sehingga anak tidak merasa diasingkan. Jika anak sudah terbiasa dengan sekelompok orang baru, mulailah ajak anak ke lingkungan yang lebih luas lagi.

8. Bantu anak untuk mengetahui kelebihannya
Biarkan anak melakukan berbagai kegiatan yang sesuai dengan tahap perkembangannya agar anak mengetahui hal-hal apa saja yang dapat ia lakukan dan dapat ia banggakan. Hindari pemaparan yang terlalu sering terkait kegiatan yang jauh diatas tahap perkembangannya dikarenakan kemungkinan anak menghadapi kegagalan akan menjadi sering dan membuat anak merasa tidak memiliki kemampuan yang dapat dibanggakan.
“mengenali dirimu sendiri dapat membantumu untuk memahami orang-orang disekitarmu”

Happytribe sebagai sarana anak berlatih bersosialisasi
Mom tidak perlu khawatir dan bingung dalam mencari sarana untuk si kecil dapat berlatih bersosialisasi dengan lingkungan. Jika putra putri mom berusia 2-3 tahun atau 4-6 tahun, Happytribe dapat menjadi solusinya. Di Happytribe si kecil akan mendapatkan rasa aman, nyaman dan pengalaman menyenangkan dalam memasuki lingkungan baru. Kelompok bermain dengan jumlah terbatas, yaitu 10 anak dan dibimbing oleh fasilitator handal dan berpengalaman ditambah dengan pendampingan tim observer tenaga ahli yang mendalami ilmu psikologi adalah kondisi yang ideal bagi anak untuk berlatih meningkatkan social skill. Lihat disini untuk memahami apa itu happytribe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*