Category "Parenting"

8Jan2018

Pengembangan anak usia dini di masa inilah sangat penting untuk mengajarkan anak berbagai hal positif. Tidak hanya berhubungan dengan fisik, mental, emosinya, tetapi juga sosialnya. Salah satu yang bisa Anda ajarkan pada anak usia dini adalah berempati.

Empati merupakan sebuah rasa yang penting dipelajari semua orang, khususnya dikenalkan pada anak-anak. Dengan empati ini diharapkan anak akan tumbuh menjadi generasi yang tidak mati rasa. Terlebih sekarang ini banyak sekali kejadian yang menunjukkan hilangnya rasa empati pada orang-orang dewasa hingga dicontoh oleh anak-anak.

Anda tentu tidak ingin memiliki anak yang tumbuh tanpa kecerdasan emosional bukan? Atau juga anak yang tumbuh menjadi anak egois, tidak mau tau dengan lingkungan sekitar, bahkan tidak peka dengan perasaan orang lain disekitarnya?

Nah berikut ini beberapa cara untuk mengajarkan anak berempati sedari dini:

Orangtua Sebagai Pemberi Contoh

Orangtua memang menjadi guru pertama bagi anaknya. Dan bisa dibayangkan apa yang terjadi jika Anda sebagai orangtua malah bersikap acuh tak acuh ketika ada pengemis yang menghampiri. Lalu tidak memperdulikan kesulitan orang lain, bahkan suka menyiksa binatang.

Anak akan belajar empati dari orangtuanya. Dan jika Anda mengaharapkan anak untuk memiliki empati maka mulailah memberikan contoh yang baik untuk anak.

Bantu Anak Kenali Emosinya Terlebih Dahulu

Sebelum mengajarkan anak untuk berempati atau mengindentifikasi perasaan orang lain. Hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah membantu anak mengenali emosinya sendiri. Penting bagi Anda untuk bertanya bagaimana perasaan anak, misalnya saat ia senang, sedih atau marah.

Membantu anak mengenali perasaanya sendiri ini bisa menjadikan pembelajaran bagi anak untuk mengelola emosinya. Selanjutnya anak pun bisa menyesuaikan antara emosi yang disampaikan dengan situasi yang sedang berlangsung.

Salah satu cara untuk membantu anak mengenali perasaannya adalah dengan menunjukkan beberapa foto orang dengan ekspresi berbeda. Bisa juga dengan mengajak anak balita untuk menggambar beberapa ekspresi wajah.

Memiliki Hewan Peliharaan

Sebuah penelitian di Inggris menunjukan jika anak yang memelihara binatang mampu memiliki kemampuan sosial lebih baik. Memelihara binatang ini mampu mengembangkan sisi empati dan kemampuan anak dalam mengasuh. Selain itu, dengan memelihara binatang pun anak diajarkan untuk bertanggungjawab sedari dini.

Libatkan Anak dalam Kegiatan Sosial Yuk

Ajak untuk berkunjung ke kegiatan sosial seperti ke panti asuhan. Biarkan anak mengenal dan melihat kehidupan anak-anak yang kurang beruntung lalu bagaimana dan apa yang bisa Anda lakukan untuk membantu mereka. Melibatkan anak dalam kegiatan sosial akan membuat mereka lebih peka dengan perasaan orang lain.

Tugas yang tidak mudah memang bagi orangtua untuk membesarkan anak agar bisa menjadi generasi yang bermanfaat bagi sekitarnya. Namun dengan memberikan contoh yang baik dan menempatkannya ke dalam lingkungan positif, tugas ini bisa dibuat lebih mudah.

Salah satu cara untuk mengembangkan rasa empati anak pun bisa dengan memasukkannya ke kelompok bermain atau PAUD saat umurnya sudah mencukupi. Di sini anak akan bertemu dan berinteraksi dengan anak-anak lainnya sehingga bisa mengetahui dan mengenali emosi anak-anak lainnya.

Bagi Anda yang  berdomisili di Bandung dan masih bingung mencari kelompok bermain, maka bisa langsung mengjungi Happy Club. Di Happy Club percaya, saat anak bermain maka dia akan belajar tentang dirinya, belajar tentang lingkungan sekitarnya, dan belajar tentang isi dunia. Bermain juga menjadi waktu untuk mengembangkan dirinya loh.

Happy Club sendiri akan dibuka secara resmi pada 23 Juli 2017 dan anak Anda bisa mendapatkan free trial dalam kelompok bermain di Happy Club. Pastikan pengembangan anak usia dini Anda lebih maksimal dan berjalan dengan baik bersama Happy Club yuk.

 

Sumber gambar:

1: earthporm.com
2: cloudfront.net
3: wp.com
4: http://newmoon.com
5: nebraskacff.files.wordpress.com

2Jan2018

Pengembangan anak usia dini salah satunya terdiri dari aspek fisik. Anak usia dini atau anak berusia antara 0-8 tahun memang harus mendapatkan bimbingan agar tumbuh kembangnya bisa maksimal. Terlebih anak usia dini ini sedang mengalami masa golden age atau masa emas, di mana mereka akan menyerap semua hal untuk mengembangkan tidak hanya fisik tetapi juga mentalnya.

Nah salah satu yang bisa Anda lakukan sebagai orangtua untuk mendukung momen masa emasnya ini adalah membantu pertumbuhan fisiknya. Salah satu caranya dengan mengajaknya berolahraga. Namun tentu saja olahraga yang dilakukan anak usia dini ini berbeda dengan orang dewasa. Mau tau jenis olahraga apa saja yang cocok dilakukan oleh anak usia dini? Berikut ini daftarnya:

Berjalan dan Berlari

Olahraga ini sangat mudah dilakukan dan sangat sederhana. Anda bisa melakukannya kapan dan di mana saja. Mulai dari berjalan-jalan di taman pada pagi hari, sampai berjalan-jalan di Mall menemani orangtuanya.

Children running

Bergelantungan

Olahraga ini membutuhkan alat bantuan agar anak bisa bergelantungan. Jenis olahraga ini mampu melatih otot tangan dan genggaman anak juga melatih tubuh bagian belakangnya. Namun pastikan Anda mengawasi anak saat melakukan olahraga ini karena bisa berbahaya saat anak terjatuh dari pegangannya.

Melompat

Anak mana sih yang tidak suka melompat-lompat, apalagi melompat di kasur! Ternyata melompat bisa menjadi alternatif pilihan jenis olahraga yang baik untuk menunjang fisik anak loh. Dengan melompat, maka anak akan melatih kekuatan otot bagian kaki. Namun pastikan anak melompat di tempat yang aman ya.

Menendang, Menangkap, dan Melempar Bola

Anda bisa mengajarkan anak untuk menendang dan melempar bola ke suatu titik tertentu. Kegiatan olagraga ini mampu melatih ketangkasan dan keakuratan anak. Selain itu, anak pun bisa dilatih untuk berpikir cepat dan tanggap.

Bersepeda

Berikan sepeda yang sesuai dengan usianya. Melalui bersepeda anak bisa belajar melatih otot kaki dan kecermatannya dalam mengukur sesuatu. Anak-anak juga akan dilatih dalam hal kewaspadaannya.

Berenang

Anak pasti suka main air! Dan Anda bisa mengajaknya berenang di mana dia bisa bermain air sambil belajar. Berenang mampu melatih pernapasan dan otot tubuhnya. Selain itu, berenang juga bisa menyembuhkan anak dengan penyakit asma loh.

Senam untuk Anak

Selain melatih kelenturan tubuhnya. Senam juga bisa bisa melatih keseimbangannya sehingga anak memiliki tubuh yang kokoh dan kuat.

Menari

Hampir semua anak menyukai menari. Dan jika anak berani menari di depan umum bisa menandakan rasa percaya dirinya baik loh. Melalui menari, anak juga bisa melatih kelenturan tubuh serta keseimbangan tubuhnya. Mulai sekarang tidak ada salahnya bukan untuk menyetel musik di rumah dan mengajak anak menari bersama.

Children playing in the park

Kegiatan olahraga untuk anak pun bisa Anda temukan saat memasukkan mereka ke sebuah kelompok bermain loh. Di kelompok bermain ini, anak tidak hanya akan dikenalkan dengan alam dan lingkungan, tetapi juga diajak beraktivitas yang bisa membantu pertumbuhan fisiknya.

Salah satu kelompok bermain yang bisa Anda pilih, khususnya yang berdomisili di Bandung adalah Happy Club. Happy Club merupakan pusat pengembangan anak dengan fokus utama pada pengembangan karakter dan kecerdasan majemuk untuk anak usia dini.

Adapun pendidikan karakter yang diterapkan oleh Happy Club adalah olah hati, olah rasa, dan olahraga. Sedangkan untuk pengembangan kecerdasan majemuknya, meliputi ; kecerdasan bahasa, kecerdasan logika-matematika, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan gerak tubuh, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalis, dan kecerdasan spiritual.

Happy Club akan resmi di buka pada 23 Juli 2017, di mana Anda bisa mendapatkan free trial untuk kelompok bermainnya loh. Untuk info lebih lanjut dan konsultasi seputar pengembangan anak usia dini, Anda bisa mengunjungi www.happyclub.id.

Sumber gambar:

1: http://myhealthoc.org
2: alicdn.com
3: http://restoreclinique.ie
4: timeout.com
5: cdn.com
6: http://cf.ltkcdn.net
7: jumpforjoycda.com

17Dec2017

Pengembangan anak usia dini yang bisa dikatakan tahapan paling penting adalah, apakah anak sudah bisa berbicara atau belum? Apakah kosa kata yang dimilikinya sudah banyak sesuai dengan usianya atau belum? Perkembangan bahasa dan bicara anak ini menjadi indikator apakah tumbuh kembang anak berjalan baik atau tidak.

Umumnya anak usia dua tahun sudah bisa berbicara dengan jelas walaupun kosa katanya masih sedikit dan sering tertukar. Dan ketika anak usia tiga tahun masih belum bisa bicara dengan jelas, maka dicurigai mengalami masalah keterlambatan bicara.

Berikut ini beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mengajari anak usia dua tahun untuk berbicara:

Ajari Mereka Kata Baru Setiap harinya
Mengajarkan kata-kata baru setiap harinya terlihat mudah memang. Namun Anda harus memilih kata apa saja yang harus diperkenalkan pada anak setiap harinya loh.

Cara mengajarkan kata-kata baru ini pun cukup mudah. Anda cukup menunjuk suatu objek dan mengatakan benda apa itu lalu ceritakan sedikit mengenai benda tersebut. Lalu mintalah anak untuk mengulangi benda apa yang baru saja Anda perkenalkan.

Membacakan Buku pada Mereka Yuk
Tidak hanya pada anak usia dua tahun, membacakan buku saat masih bayi pun bisa membantu mengembangkan kemampuan berbahasanya loh. Membacakan buku membantu mengembangkan otaknya dan keahlian berbicara serta berkomunikasi. Selain itu, dengan membacakan buku juga bisa menjalin hubungan lebih dekat dengan orangtuanya.

Jangan Biarkan Anak Bicara dengan Nada Merengek
Anak bicara dengan nada merengek? Jangan sampai Anda membiarkannya dan menjadi kebiasaan. Katakan pada anak untuk berbicara dan mengungkapkan apa yang menjadi keinginannya dengan nada normal. Membiasakan anak berbicara dengan nada normal ini membantu mereka agar bisa berkomunikasi lebih baik lagi dengan orang lain.

Jadilah Contoh yang Baik untuk Anak

Anak akan mencontoh apa yang orangtua lakukan. Walaupun anak mendapatkan pelajaran yang baik di lingkungannya, namun jika orangtua melakukan hal yang tidak benar maka akan dicontohnya. Untuk itu jagalah perkataan Anda, dan bicaranya seperti Anda ingin anak berbicara serta berkomunikasi dalam kehidupan kesehariannya.

Mengajarkan anak untuk berbicara juga bisa dilakukan dengan memasukkan mereka ke sebuah kelompok bermain. Di sini mereka akan menemukan kata-kata baru, saling berinteraksi, dan tentu saja berkomunikasi sehingga mengembangkan tidak hanya kemampuan berbahasa tetapi juga keahlian bersosialisasinya.

Umur berapa sebenarnya bisa memasukkan anak ke kelompok bermain? Anak usia dua tahun sudah bisa dimasukkan ke kelompok bermain. Asalkan kelompok bermainnya benar-benar berkualitas, mulai dari lingkungan sekolahnya, cara mengajar, hingga pengajarnya.

Melalui kelompok bermain ini anak bisa belajar mengenal alam dan lingkungannya. Kreatifitas anak pun bisa dikembangkan dengan bimbingan dari pengajarnya. Salah satu kelompok bermain yang bisa menjadi pilihan Anda, khususnya yang tinggal di Bandung adalah Happy Club.

Happy Club sendiri merupakan pusat pengembangan anak dengan fokus utama pada pengembangan karakter dan kecerdasan majemuk untuk anak-anak usia dini. Happy Club mengembangkan karakter dan kecerdasan majemuk anak ini melalui aktifitas bermain sehingga belajar bisa lebih menyenangkan.

Bagi Anda yang tertarik untuk mengembangkan karakter dan kecerdasan anak bersama Happy Club maka ada kabar baiknya nih. Happy Club yang akan dibuka secara resmi pada 23 Juli 2017 ini mengadakan free trial loh. Memberikan kesempatan bagi Anda untuk melihat apakah anak cocok dengan kelompok bermain Happy Club atau tidak.
Pengembangan anak usia dini sangatlah penting untuk itu jangan sampai Anda menyia-nyiakan momen golden age mereka ya. Dan Happy Club hadir untuk membantu Anda mengembangkan potensi anak semaksimal mungkin dengan cara yang menyenangkan. Info lebih lanjut bisa langsung kunjungi happyclub.id.

Sumber gambar:
1: parentmap.com
2: mrssrs.com
3: pinimg.com
4: growingyourbaby.com
5: einsteinbox.in

13Dec2017

Tahukah Anda, kecerdasan (IQ) anak tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh faktor keturunan, tetapi juga stimulasi? Selain faktor keturunan (nature), nutrisi dan stimulasi tumbuh kembang otak anak (nurture) juga dapat memengaruhi perkembangan kecerdasan si kecil. Stimulasi dapat Anda lakukan melalui bermain, musik, bahasa dan aktivitas lainnya.

Stimulasi tumbuh kembang otak anak yang dilakukan sedini mungkin sangat penting karena perkembangan fungsi otak mencapai 90% dalam 5 tahun pertama kehidupan anak. Berikut enam cara stimulasi yang dipercaya membantu tumbuh kembang otak anak, di antaranya:

Bermain
Jenis stimulasi harus disesuaikan dengan kemampuan usia. Misalnya, saat usia anak 7-8 bulan, orangtua bisa bermain cilukba dengan si kecil. Permainan ini mengajarkan anak bersosialisasi dan mengenalkan konsep aksi-reaksi pada anak. Bila usia anak 9-10 bulan, permainan cilukba bisa ditingkatkan ke permainan petak umpet.
Perlu diketahui, bayi menyukai hal yang terprediksi dan senang aksi menekan atau menarik mainan. Kalau mereka sudah menyukainya, mereka senang melakukan pengulangan (repetisi) tak terhitung banyaknya. Sementara untuk anak berusia 1 tahun, orangtua sebaiknya mengajak si kecil bermain permainan yang diiringi tantangan dan membuat logika anak berjalan.

Berbicara
Orangtua dianjurkan untuk berbicara pada anak sesering mungkin dengan penuh kasih sayang, terutama pada bayi dan masa balita. Walaupun anak belum mampu menjawab, si kecil dapat mengekspresikan perasaannya dengan senyuman, gerakan bibir, berteriak sampai menangis.
Orangtua dapat berbicara dengan anak menggunakan beberapa teknik, antara lain:

• Bertanya dengan bahasa sederhana, seperti “adik haus ya?”
• Memberi komentar pada perasaan anak dengan bahasa sederhana, seperti “kasihan, adik rewel karena kepanasan, ya?”
• Memberi komentar akan keadaan atau perilaku anak, seperti “wah, rambutmu sudah panjang ya”
• Bercerita tentang benda-benda yang ada di sekeliling anak, seperti “lihat ini sepeda warnanya kuning.”

Memberikan respons
Sean Brotherson, seorang psikolog keluarga senior dari North Dakota State University, Amerika Serikat, menyatakan bahwa lingkungan yang ramah akan menghasilkan situasi belajar yang optimal bagi anak dan meningkatkan tumbuh kembang otak bayi. Salah satu teknik stimulasi tumbuh kembang otak anak yang efektif adalah memberi respons kepada anak yang meminta dukungan dan perhatian.

Lantas, respons seperti apa yang membuat anak merasa didengar atau nyaman?

• Sensitivitas, orangtua dapat merasakan keresahan bayi melalui ekspresi atau gestur tanpa bayi harus menangis terlebih dahulu
• Timing, orangtua sebaiknya memberikan respons cepat sebelum anak terlihat kesal
• Kehangatan, repons yang penuh perhatian dan kasih sayang membuat anak belajar secara sederhana makna kata percaya (trust)
• Respons yang diberikan sesuai dengan harapan atau tidak.

Mengenalkan aroma
Pertama kali anak mengenal orangtua terutama ibu bukanlah dari wajahnya, namun dari aromanya. Bahkan, si kecil juga mampu mengenali aroma air susu ibu. Tahukah Anda, aroma yang berbeda bisa memberikan stimulasi tumbuh kembang otak anak?

Apabila anak sudah diperkenalkan MPASI, berilah ia waktu mencium dan mengenali aroma makanan baru tersebut. Alternatif lain adalah mengajak si kecil pergi ke luar dan membiarkannya mencium aroma udara, tanah dan berbungaan.
Melalui aroma, anak mampu mengasosiasikan atau membangunkan kembali memori zaman dahulu. Misalnya, saat anak mencium aroma popcorn, bertepatan dengan ia mendapat kasih sayang dari orang-orang terdekatnya. Otomatis, saat aroma popcorn tercium kembali, hal itu akan membawa anak pada ingatan masa-masa indah tersebut.

Kontak mata
Sel-sel otak anak akan terhubung melalui kontak mata. Melalui tatap mata akan tercipta koneksi emosi yang kuat sehingga membuat anak merasa dicintai dan merasa dirinya berharga. Kontak mata adalah salah satu koneksi sederhana, namun memiliki pengaruh luar biasa pada tumbuh kembang anak. Stimulasi tumbuh kembang otak anak melalui kontak mata, dapat dijadikan sebagai jembatan pertama anak belajar akan fitur wajah dan pemahaman sederhana ekspresi pada wajah.

Sentuhan
Stimulasi tumbuh kembang otak anak lainnya adalah sentuhan. Sentuhan merupakan kebutuhan utama anak yang berfungsi untuk menciptakan hubungan antar sel otak si kecil. Sentuhan terutama pelukan dan ciuman lembut akan membuat anak merasa terlindungi dan kebutuhan afeksinya terpenuhi.

Berangkat dari rasa terlindungi inilah, si kecil merasa aman dan memiliki kepercayaan diri mengeksplorasi lingkungan sekitar. Sentuhan juga memengaruhi pada kecerdasan emosional anak, yang akan menguatkan perasaan-perasaan positif yang ia miliki dan tumbuh menjadi pribadi ber-EQ di atas rata-rata.

Stimulasi tumbuh kembang otak anak akan optimal bila diberikan pada atmosfer menyenangkan (tidak terburu-buru), penuh cinta, dilakukan sesering mungkin dan sifatnya berkesinambungan. Saat memberikan stimulasi, orangtua juga harus memperhatikan kondisi anak. Apakah si kecil dalam kondisi fit, siap maupun senang. Berikan pujian apabila saat diberikan stimulasi anak merespons dengan baik.

 

Sumber gambar:
1: oxfordlearning.com
2: lcfclubs.co.nz
3: mdpcdn.com/
4: googleapis.com
5: http://abclearningcenterfl.com
6: mdpcdn.com/
7: wp.com

9Dec2017

Nutrisi untuk tumbuh kembang anak merupakan salah satu faktor yang memiliki peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan si kecil. Agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, semua kebutuhan dasar nutrisinya harus terpenuhi. Maka sangat penting bagi orangtua untuk memahami pengetahuan tentang gizi anak.

Berikut enam kebutuhan nutrisi dasar yang diperlukan anak untuk memenuhi menu hariannya, agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal.

1. Protein
Protein bermanfaat untuk membentuk dan memperbaiki jaringan yang rusak. Selain itu, protein sebagai nutrisi serbaguna bagi anak juga dapat membantu dalam proses penggumpalan darah, kontraksi otot, perlawanan terhadap infeksi dan pembentukan struktur tulang gigi dan rambut.
Sejumlah penelitian telah membuktikan, anak yang diberikan makanan yang kaya akan protein, terutama protein hewani, rata-rata memiliki tinggi badan yang normal bahkan lebih tinggi dari anak-anak seusianya. Makanan berprotein tinggi dapat Anda dapatkan dari telur, daging, dan susu.

2. Omega 3
Omega 3 (asam linolenat) merupakan asam lemak esensial yang berperan dalam pembentukan pembungkusan saraf. Nutrisi ini memiliki peran penting untuk kecerdasan otak anak. Omega 3 dipercaya mampu meningkatkan daya ingat sehingga dapat menunjang kegiatan belajar anak. Omega 3 ini dapat Anda peroleh dari ASI, makanan ikan laut seperti salmon dan tuna serta produk susu.

 

3. Kalsium
Kalsium merupakan salah satu zat gizi mikro yang penting untuk pertumbuhan anak. Kalsium berperan penting dalam pembentukan tulang serta mempertahankan kepadatan tulang dan gigi. Perlu diketahui, kalsium akan terserap dengan baik bila ada vitamin D. Pemenuhan vitamin D bisa didapatkan dari sinar matahari, produk susu dan suplemen. Sumber-sumber makanan yang mengandung kalsium antara lain keju, susu, yoghurrt dan jeruk.

4. Zat Besi
Nutrisi untuk tumbuh kembang anak lainnya bisa didapatkan dari zat besi. Namun sayangnya, kasus yang sering terjadi pada anak adalah kekurangan zat besi. Anak yang kekurangan zat besi bisa mengalami anemia. Anemia inilah yang mengakibatkan perkembangan motorik dan kognitif anak jadi terhambat.

Zat besi juga dibutuhkan dalam pertumbuhan anak. Hal ini dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan di Saharawi yang menyatakan, anak yang mengalami kekurangan zat besi memiliki tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan anak yang asupan zat besinya terpenuhi. Zat besi ini dapat Anda peroleh dari berbagai makanan seperti hati, daging merah, unggas, ikan, sereal dan kacang-kacangan.

5. Serat
Serat merupakan zat gizi yang tergolong karbohidrat kompleks tanpa kalori. Mengonsumsi serat dalam jumlah yang cukup dan frekuensi yang sering atau teratur, dapat mencegah anak terkena penyakit degeneratif atau gangguan kesehatan. Gangguan kesehatan yang sering dialami anak seperti obesitas tentu saja akan memengaruhi proses pertumbuhannya. Serat bisa didapatkan dari makanan-makanan seperti kacang-kacangan, brokoli, aplukat, buah pir dan apel, bayam, beras merah dan oatmeal.

6. Antioksidan
Antioksidan merupakan nutrisi untuk tumbuh kembang anak yang tak kalah penting. Antioksidan bermanfaat menangkal kerusakan sel dan jaringan di dalam tubuh serta bisa mencegah anak terkena radikal bebas yang dapat mengakibatkan penyakit degeneratif. Contoh antioksidan di antaranya vitamin A, vitamin C, likopen, selenium, betakaroten dan lutein.

Dalam proses pertumbuhan, nutrisi untuk tumbuh kembang anak satu ini bekerja untuk mencegah anak mengalami obesitas dan penyakit degeneratif lainnya. Contoh makanan yang mengandung antioksidan antara lain buah-buahan (apel, pir, anggur, jeruk, pisang dll.), sayur-sayuran (brokoli, tomat, asparagus, dll.) dan kacang-kacangan (kenari dan almond).

Sumber gambar:
1; ndtvimg.com
2: pinimg.com
3; gourmandelle.com
4: pinimg.com
5: ndtvimg.com
6: parenting.mdpcdn.com

7Dec2017

Kekurangan zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral dapat memengaruhi gangguan serius pada tumbuh kembang anak. Kekurangan ini sering kali diakibatkan karena pola makan yang miskin akan sumber pangan hewani dan buah. Mau tahu apa saja penyebab tumbuh kembang anak lambat lainnya? Simak penjelasannya berikut ini!

Setiap orangtua tentu peduli dengan pertumbuhan dan perkembangan si kecil. Terlebih bagi Anda yang memiliki anak balita, tentu sangat memperhatikan perkembangan motorik, kognitif dan sosio-emosional anak. Namun, jika Anda merasa bahwa tumbuh kembang anak sedikit lebih lambat dibanding anak lain seusianya, merupakan hal wajar bila Anda merasa khawatir.

Perlu Anda pahami, mengukur pertumbuhan anak dengan tidak hanya melihat dari berat dan tinggi badannya saja. Perkembangan otak dan kemampuan anak lainnya juga merupakan bagian penting dari tumbuh kembang balita. Berikut beberapa penyebab tumbuh kembang anak lambat, di antaranya:

Kurangnya asupan gizi
Kekurangan zat gizi mikro (vitamin dan mineral) jika tidak segera diatasi sejak dini akan berdampak buruk dalam jangka panjang dan bisa menghambat tumbuh kembang anak. Anak sering kali kekurangan zak gizi mikro berupa kalsium, zat besi zinc, B12, C, dan D. Kekurangan asupan ini biasanya diakibatkan pola makan yang miskin sumber pangan hewani dan buah.

Padahal zat gizi mikro juga memiliki peran penting untuk membantu pertumbuhan tulang, gigi, pembentukan imunitas, tekanan darah dan cairan tubuh serta pengendalian syaraf.

Pola asuh orangtua
Pola asuh orangtua yang kurang tepat juga menjadi penyebab tumbuh kembang anak lambat. Orangtua yang sangat berhati-hati atau protektif bisa memengaruhi perkembangan anak, terutama motoriknya. Misalnya, tidak membiarkan anak bergerak dengan bebas atau terlalu sering menggendong anak terutama pada bayi yang sudah berusia 8 bulan.
Kondisi ini bisa mengakibatkan anak menjadi terlambat merangkak atau berjalan dan bila si kecil terjatuh makan ia akan takut untuk mencobanya lagi. Oleh karena itu, orangtua harus membiarkan anak untuk beraktivitas secara bebas dan tidak terlalu sering menggendong, sebatas tidak membahayakan si kecil.

Kurangnya pengalaman sehari-hari
Penyebab tumbuh kembang anak lambat lainnya adalah tidak ada atau kurangnya pengalaman sehari-hari yang dialami si kecil. Hal ini akan berdampak pada perkembangan motorik anak, baik yang ringan maupun yang signifikan. Bila keterlambatan perkembangan anak ini tidak segera di atasi, maka si kecil cenderung akan mengalami keterlambatan motorik visual, motorik halus dan komunikasinya.



Kurangnya stimulasi pada anak

Keterlambatan perkembangan pada anak bisa disebabkan sedikitnya oleh rangsangan atau stimulasi yang diterima si kecil. Bila saat masih usia dini (balita), si kecil memiliki sedikit kesempatan untuk bergerak atau mengeksplorasi tubuhnya karena kurangnya stimulasi, maka anak tidak akan belajar bagaimana caranya bergerak dengan baik.
Contoh dari kurangnya stimulasi di antaranya memiliki sedikit kesempatan untuk bermain dengan mainannya, jarang terlibat dengan anak-anak lainnya ketika bermain, orangtua jarang mengajak anak berkomunikasi, atau anak jarang diajak bermain secara sosial dan verbal dengam orang dewasa.

Sering jatuh sakit
Bila anak sering jatuh sakit, hal ini akan mengganggu pertumbuhannya. Ketika anak sakit, nafsu makannya akan menurun padahal ia membutuhkan banyak energi untuk membantu masa penyembuhan. Maka, makanan dan suplemen untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya sangat penting diberikan agar si kecil tidak mudah sakit.
Bila ternyata penyebab tumbuh kembang anak lambat akibat kondisi penyakit tertentu, maka Anda sebaiknya melakukan pemeriksaan ke dokter agar dapat dideteksi secara dini dan dapat segera diatasi.

Sumber gambar:
1: parenting.com
2: tesco-baby.com
3: scene7.com
4: pgsitecore.com
5: babycenter.com

14Nov2017

Hai Mom! Apakah si kecil memiliki karakter anak pemalu? Jika mom belum yakin, amati ciri-ciri karakter anak pemalu disini. Jika iya, maka lakukan 8 langkah berikut untuk meningkatkan kemampuan sosialisasi anak.

1. Peka terhadap reaksi anak
Orangtua perlu mengamati bagaimana reaksi anak saat ia berhadapan dengan lingkungan baru dan amati situasi lingkungan saat anak menampilkan reaksi menarik diri. Hal ini perlu dilakukan agar orangtua memahami seberapa besar ketakutan dan kecemasan yang anak rasakan saat ia berada di lingkungan baru dan memahami situasi lingkungan yang seperti apa saja yang dapat memicu munculnya perilaku pemalu. Jika emosi negatif (menangis, marah, tantrum) yang muncul cukup kuat, maka orangtua perlu memeluk anak hingga tenang karena melalui pelukan orangtua maka anak akan mendapatkan rasa aman. Kemudian jelaskan pada anak dengan nada bicara yang lembut bahwa ia aman bersama orangtua dan lingkungan tersebut juga aman bagi dirinya. Peka terhadap reaksi anak, dapat menghindarkan orangtua dari memberikan stimulasi sosial yang berlebihan terhadap anak

2. Hindari memaksa anak untuk berinteraksi sosial
Memaksa anak untuk terjun ke lingkungan baru, bukanlah cara yang efektif bagi semua anak. Apalagi dengan cara mendorong-dorong badannya, memarahi, mengancam atau berlari dan berpura-pura meninggalkannya dengan harapan ia akan menjadi lebih berani. Sebaliknya, beberapa anak bahkan menjadi lebih takut dan bisa saja muncul traumatis tertentu pada situasi sosial, jika ia tidak berada dalam kondisi yang siap untuk menghadapi lingkungan baru tersebut. Oleh karena itu, akan lebih baik jika anak didampingi oleh orang terdekatnya terlebih dulu saat berinteraksi dengan lingkungan baru. Bantu anak untuk memulai pembicaraan dan bermain dengan nyaman, setelah itu orangtua secara bertahap melepas anak untuk sendirian saat berinteraksi dengan orang lain. Orangtua sebaiknya tidak langsung meninggalkan anak secara tiba-tiba. Akan tetapi sebaiknya meminta ijin kepada anak untuk membiarkannya bermain sendiri dengan lingkungan barunya dan meyakinkan anak terkait dimana ia dapat menemukan orangtuanya sewaktu-waktu ia butuhkan. Hal ini dapat membuat anak merasa nyaman dan aman ketika berinteraksi dengan lingkungan baru tanpa pendampingan orangtua.

3. Yakinkan anak untuk melakukan interaksi sosial
Orangtua perlu menunjukkan kepada anak bahwa lingkungan dan orang lain yang baru ia kenal itu menyenangkan sehingga dapat membuatnya merasa nyaman dan aman. Selain itu, yakinkan kepada anak bahwa ia perlu berinteraksi sosial agar ia dapat menikmati permainan atau menyelesaikan tugas tertentu. Jelaskan pada anak terkait perasaan, pikiran dan cara berperilaku orang lain berinteraksi dengan anak. Misalnya, orangtua menjelaskan bahwa anak lain yang mendekatinya dan mengulurkan tangan itu hanya ingin berkenalan dikarenakan ia senang dengan kehadiran anak dan ingin mengajaknya bermain. Hal ini membantu anak untuk lebih memahami situasi sosial yang ada.

4. Hindari memberikan label “pemalu”
Sebaiknya hindari menyebut anak sebagai “pemalu”, memarahi anak ataupun menyebutkan seberapa lucunya anak ketika ia menampilkan perilaku menolak untuk berinteraksi sosial. Hal ini akan semakin memperkuat rasa takut anak untuk melakukan interaksi sosial dan meyakinkan anak bahwa dirinya memang pemalu. Sebaiknya berikan kata-kata positif atau mengajari anak menggunakan “positive self-talk”, seperti “kamu kan, anak yang pemberani ya..”, “ga apa-apa kok salah, kan semua orang juga bisa salah bukan cuma kamu saja, nak”, atau “Tenang, tidak usah takut ya.. ”. Selalu semangati si kecil dan hargai usahanya dalam bersosialisasi dengan lingkungan baru.

5. Berikan pujian saat anak melakukan interaksi sosial
Berikan pujian yang tulus setiap kali anak mulai bersedia berjabat tangan, menyebutkan namanya pada orang lain, bersedia mengikuti kegiatan berkelompok, hingga anak bersedia ditinggalkan oleh orangtua saat bersama orang lain. Tunjukkan bahwa orangtua bangga pada hal-hal kecil yang anak lakukan saat berinteraksi sosial, agar anak dapat menumbuhkan rasa percaya diri dalam melakukan sosialisasi.
“ketika kamu merasa tidak nyaman dengan dirimu sendiri, maka orang lain akan lebih merasa tidak nyaman dengan kehadiranmu”

6. Berikan contoh bagaimana melakukan interaksi sosial yang baik
Orangtua perlu menunjukkan terlebih dulu cara memulai berinteraksi dengan baik kepada orang lain. Misalnya, orangtua menyapa dan berkenalan dengan anak lain terlebih dulu dan meminta anak untuk melakukan hal yang sama (pastikan anak memperhatikan perilaku orangtuanya). Orangtua juga dapat melakukan role-play yang menyenangkan mengenai cara memulai perkenalan, memperkenalkan diri, hingga cara mengajak bermain. Selanjutnya perkenalkan anak dengan orang lain yang terbuka dan menyenangkan. Biarkan anak merasakan rasa nyaman ketika berinteraksi dengan orang tersebut. Hal ini dilakukan agar anak mengetahui bahwa memulai interaksi tidaklah semenakutkan yang ia bayangkan. Orangtua juga mulai membiasakan untuk melakukan kontak mata setiap kali berbicara dengan anak dan meminta anak untuk menyampaikan apa yang ia rasakan, inginkan dan ia pikirkan agar anak terlatih untuk lebih percaya diri saat berbicara dihadapan orang lain.
“kemampuan bersosialisasi yang baik itu tidaklah hanya tentang berinteraksi dengan orang lain, tetapi juga melihat sudut pandang orang lain dan berpikir untuk orang lain”

7. Ajak anak ke berbagai tempat dan bertemu dengan orang baru
Hal ini dapat membantu anak beradaptasi dengan berbagai macam lingkungan dan melatih social skill-nya dalam mengenal serta menghadapi berbagai macam karakter manusia. Mulailah mengajak anak ke tempat bermain dan berkenalan dengan anak lain secara personal (satu per satu). Kemudian ajak anak ke tempat yang tidak terlalu ramai tetapi memfasilitasi anak untuk mempresentasikan dirinya, berinteraksi dan bekerjasama dengan anak lain, serta adanya pendamping yang memperhatikan perilaku anak sehingga anak tidak merasa diasingkan. Jika anak sudah terbiasa dengan sekelompok orang baru, mulailah ajak anak ke lingkungan yang lebih luas lagi.

8. Bantu anak untuk mengetahui kelebihannya
Biarkan anak melakukan berbagai kegiatan yang sesuai dengan tahap perkembangannya agar anak mengetahui hal-hal apa saja yang dapat ia lakukan dan dapat ia banggakan. Hindari pemaparan yang terlalu sering terkait kegiatan yang jauh diatas tahap perkembangannya dikarenakan kemungkinan anak menghadapi kegagalan akan menjadi sering dan membuat anak merasa tidak memiliki kemampuan yang dapat dibanggakan.
“mengenali dirimu sendiri dapat membantumu untuk memahami orang-orang disekitarmu”

Happytribe sebagai sarana anak berlatih bersosialisasi
Mom tidak perlu khawatir dan bingung dalam mencari sarana untuk si kecil dapat berlatih bersosialisasi dengan lingkungan. Jika putra putri mom berusia 2-3 tahun atau 4-6 tahun, Happytribe dapat menjadi solusinya. Di Happytribe si kecil akan mendapatkan rasa aman, nyaman dan pengalaman menyenangkan dalam memasuki lingkungan baru. Kelompok bermain dengan jumlah terbatas, yaitu 10 anak dan dibimbing oleh fasilitator handal dan berpengalaman ditambah dengan pendampingan tim observer tenaga ahli yang mendalami ilmu psikologi adalah kondisi yang ideal bagi anak untuk berlatih meningkatkan social skill. Lihat disini untuk memahami apa itu happytribe.

13Jul2017

Saat anak berusia empat tahun, orangtua harus sudah mengetahui minat dan bakat anak. Usia antara 4-14 tahun merupakan periode penting di mana orangtua harus mengenali dan mengarahkan bakat dan minat seorang anak.

Bagaimana cara mengetahui bakat anak dari kecil? Apa yang harus dilakukan orangtua untuk mengenali bakat dan minat anak? Perlu diketahui, bakat tidak sama dengan kecerdasan. Bakat lebih mengacu pada kemampuan motorik atau keterampilan yang ditampilkan anak. Artinya, bakat bisa terlihat oleh orang lain.

Dilansir kompas.com, anak-anak yang berbakat umumnya menonjol pada bidang tertentu dan lebih cepat menguasai bidang tertentu dibanding anak lain, tanpa mengeluarkan usaha keras. Misalnya, anak yang berbakat menggambar, mereka bisa membuat warna, komposisi, atau kualitas garis yang lebih bagus dan menarik.

Namun, Anda jangan terburu-buru untuk memastikan bahwa anak berbakat di satu bidang karena ‘terlihat’ menyukainya. Pasalnya, minat dan bakat anak di usia dini cenderung berubah. Maka dari itu, dibutuhkan strategi agar orangtua tidak salah menilai bakat dan minat anak dengan terburu-buru.

Lantas, bagaimana cara mengetahui bakat anak dari kecil? Yuk, ikuti enam tips berikut ini!

Mengamati tingkah laku anak

Coba perhatikan, kegiatan apa yang sering dilakukannya? Anak lebih berminat melakukan hal-hal apa? Tidak ada salahnya Anda mencoba melakukan tes perilaku pada anak saat melakukan suatu aktivitas. Misalnya anak diajak bermain alat musik. Lihatlah ekspresinya sebelum, selama dan setelah memainkan alat musik. Hal ini mudah sekali diamati karena terlihat langsung dan jelas.

Berikut ciri-ciri anak senang melakukan aktivitas tertentu:

  • Cepat belajar, bahkan tanpa usaha yang keras
  • Rasa penasaran
  • Terlihat asyik dan tidak mau diganggu saat melakukan aktivitas
  • Tampak bahagia setelah selesai melakukan aktivitas
  • Cenderung ingin mengulang aktivitas yang sama.

 

 

Memberikan stimulus atau rangsangan kepada anak

Nah, setelah Anda mengetahui perilaku anak saat melakukan aktivitas tersebut, stimulus anak untuk melakukan aktivitas yang sama. Jika mereka bertanya, berikan penjelasan seperlunya dan biarkan anak bereksplorasi sepuas-puasnya. Anda juga bisa memberikan stimulus kepada anak dengan memberikan les atau permainan yang variatif untuk menentukan kecerdasan majemuknya.

Mengamati kecerdasan anak

Cara mengetahui bakat anak dari kecil selanjutnya adalah mengamati kecerdasan anak. Perlu diketahui, kecerdasan seorang anak tidak hanya diukur melalui kecerdasan intelektual (IQ) saja, tetapi juga dari kecerdasan emosional (EQ).

Ada beberapa kecerdasan pada anak yang perlu orangtua ketahui, di antaranya:

  • Kecerdasan musikal, cara melatihnya dengan mendengarkan musik dan bernyanyi
  • Kecerdasan intrapersonal, berkaitan dengan perilaku tidak mudah menyerah, gigih berusaha dan percaya diri
  • Kecerdasan visual spasial, berkaitan dengan kemampuan memahami pandangan ruang, di mana anak mampu membedakan posisi dan letak ruang
  • Kecerdasan interpersonal, berkaitan dengan kemampuan sosial anak meliputi kemampuan beradaptasi, bekerja sama, dan berinteraksi dengan teman sebaya dan orang di sekitarnya.

Mengikuti lomba dan latihan

Seperti sudah dijelaskan pada paragraf sebelumnya, setelah Anda mengetahui aktivitas yang disukai anak bukan berarti bakat dan minatnya pasti di situ. Ikut sertakan anak melakukan berbagai macam latihan atau lomba agar potensi serta bakat anak akan semakin teruji dan terasah.

Di sinilah peran orangtua dalam membantu mengasah minat dan kemampuan seorang anak dalam bidang tertentu sangatlah penting. Orangtua harus aktif membantu mengasah dan mengarahkan bakat dan minat anak pada bidang tertentu.

Libatkan hobi anak

Biarkan anak melakukan aktivitas yang disukainya, belajarlah untuk saling berbagi kesenangan dengan anak. Salah satu cara menghargai kesenangan anak adalah dengan mendukung hobi yang dipilih anak. Ini merupakan salah satu cara mengetahui bakat anak dari kecil.

Melakukan analisis sidik jari

Melakukan analisis sidik jari dapat Anda jadikan solusi atau cara  mengetahui bakat anak dari kecil. Analisis sidik jari adalah sebuah metode yang digunakan untuk menganalisis kecerdasan, bakat, potensi hingga karakter seseorang hanya dengan pemindaian sidik jari. Pada dasarnya, tes ini hanya menginterpretasikan potensi dalam diri seorang anak, sedangkan pencapaian hasil kemampuan kecerdasan anak lebih dipengaruhi oleh usaha yang dilakukan oleh anak dan dukungan dari orangtua, serta lingkungannya.

Itulah beberapa cara mengetahui bakat anak dari kecil yang dapat Anda jadikan referensi untuk menemukan bakat dan minat si kecil. Penting diketahui, mengenali bakat dan minat anak membutuhkan usaha yang serius dan berkelanjutan. Untuk mempermudah Anda dalam mengenali bakat anak, buatlah semacam checklist jenis kecerdasan apa saja yang sudah Anda berikan rangsangan dan buatlah jurnal kecil perkembangan anak. Semoga bermanfaat.

 

Sumber gambar:

1: http://news.stanford.edu

2: adventuretofitness.com

3: fthmb.tqn.com

4; .allergicchild.com

5: stayathomemum.com.au

5Jul2017

Anak usia dini dan gadget, aman tidak ya? Sekarang ini teknologi semakin canggih bahkan bayi pun sudah diperkenalkan dengan gadget. Namun apakah pengenalan gadget sedari dini ini aman untuk anak Anda?

Sebetulnya ada sisi negatif dan postif dari memperkenalkan gadget sedari dini pada anak. Dan berikut daftar dampak negatif saat anak diberikan gadget:

Kecanduan

Ketika anak sudah diperkenalkan dengan gadget sedari dini maka kemungkinan besar anak akan kecanduan. Hal ini tentu akan mempengaruhi perkembangan fisik serta motorik anak. Anak akan terus bermain gadget dan mereka pun bisa susah diajak makan serta istirahat.


Bahaya Radiasi

Alat elektronik termasuk gadget biasanya menimbulkan radiasi di layarnya. Radiasi bisa mempengaruhi pada perkembangan organ tubuh anak yang belum matang. Efek negatif dari radiasi ini memang tidak akan langsung terlihat dan baru muncul di kemudian hari. Gangguan otak, hati, dan mata bisa terjadi akibat radiasi gadget ini.

Obesitas

Ketika anak sudah kecanduan gadget maka ia akan malas melakukan aktivitas lain, termasuk bermain bersama temannya di luar rumah. Anak yang asik bermain gadget dan tidak mau bergerak maka terancam terkena obesitas.

Susah Tidur

Anak yang sudah kecanduan gadget akan sulit untuk melepaskan tangannya dari gadget. Ketika jam tidur tiba, mereka pun akan sulit diajak untuk tidur. Akibatnya tentu saja anak akan kurang jam tidurnya sehingga bisa memicu penyakit. Ketika anak kurang tidur pun bisa mengganggu kegiatan sekolahnya bahkan nilai-nilainya.

Anti Sosial

Gadget membuat anak asik sendiri dan melupakan aktivitas bermain dengan teman-temannya. Lama kelamaan anak akan lebih memilih untuk bermain gadget di dalam rumah dan tidak mau bersosialiasi. Jika hal ini terus dibiarkan, saat dewasa anak pun akan sulit untuk bersosialisasi.

Dampak Positif

Dibalik dampak negatif dari sebuah gadget, ternyata masih menyimpan beberapa dampak positif bagi perkembangan anak loh. Asalkan penggunaan gadget ini dibatasi dan tidak berlebihan. Mau tau apa saja dampak positif dari memperkenalkan gadget pada anak? Ini dia daftarnya:

 

Melatih Motorik

Ketika anak diajarkan untuk mengoperasikan gadget, baik itu keyborad atau menggerak-gerakkan layar juga mouse. Maka hal ini sama efektifnya ketika anak diajarkan melukis dan menggambar. Memperkenalkan gadget pada anak artinya Anda membantu melatih motorik anak.

Selain itu, koordinasi gerak anak pun semakin terlatih. Baik itu mata dan tangannya bisa terkoordinir dengan baik. Latihan ini bisa membantunya terlatih dalam menangkap bola, bermain musik, dan lainnya.

Sebagai Media Pembelajaran

Gadget bisa menjadi media pembelajaran yang positif bagi anak. Anda bisa menginstal beberapa permainan yang mendidik atau bahkan cerita dan mengaji Al Quran. Gadget akan menjadi media pembelajaran yang menyenangkan bagi anak, namun tetap harus dibatasi penggunaannya.

Namun bersosialisasi dengan teman-temannya tetap menjadi pilihan terbaik untuk tumbuh kembang anak. Untuk itu tidak ada salahnya memasukkan anak ke sebuah kelompok bermain saat usianya sudah cukup. Di kelompok bermain ini anak bisa melupakan tentang gadget dan asik belajar sambil bermain dengan teman-temannya. Pastikan untuk memilih kelompok bermain yang baik dan tidak membuat anak stres.

Anak usia dan gadget tidak semuanya buruk. Ada hal-hal positif yang bisa Anda manfaatkan dari gadget tersebut. Asalkan Anda memberikan batasan dalam waktu pemakaian dan apa saja yang anak mainkan dalam gadget tersebut.

 

Sumber gambar:

1: http://www.freemake.com

2: http://www.teluguone.com

3: http://www.freemake.com

4: www.themalaysiantimes.com

5; http://greateasternappliances.com

6: pinimg.com

7: pakarmainan.com

8; http://www.femalefirst.co.uk

9; https://www.verywell.com

10; http://geb.ebay.com/

 

4Jul2017

Tumbuh kembang anak usia sekolah 6-12 tahun atau biasa disebut akhir masa kanak-kanak. Pada rentang usia ini, anak sudah mulai bisa membedakan mana yang baik dan buruk berdasarkan daya nalarnya sendiri.

Berikut beberapa tumbuh kembang anak di usia sekolah 6-12 tahun yang perlu Anda ketahui:

Perkembangan Aspek Kognitif

Tumbuh kembang anak usia sekolah 6-12 tahun sedang berada dalam tahap Operasional Konkret. Dalam artian, anak memiliki kecapakan berpikir login, namun hanya pada benda-benda bersifat konkret.

Di rentang usia ini, perkembangan anak pun ditandai dengan tiga kemmapuan baru. Mulai dari kemampuan mengklasifikasikan atau mengelompokkan, menyusun, dan mengasosiasikan atau menghubungkan angka dan bilangan. Kemampuan anak dalam hal yang berkaitan dengan angka, seperti pertambahan, pengurangan, perkalian, pembagian, sudah meningkat.

Begitupun dengan kemampuan anak untuk memecahkan suatu permasalahan sederhana, sudah semakin meningkat. Untuk mengembangkan daya nalarnya, Anda bisa melatih anak mengungkapkan pendapatnya terhadap berbagai hal, termasuk peristiwa yang terjadi di sekitarnya.

Aspek Fisik atau Motorik

Jika di masa bayi dan balita perkembangan fisik jelas terlihat dan sangat cepat. Maka di rentang usia tumbuh kembang anak usia sekolah 6-12 tahun ini, perkembangan atau perubahan fisiknya lebih berjalan lambat. Misalnya pada periode awal (usia 6 tahun), fisik anak masih terlihat seperti anak kecil. Namun saat menginjak usia 12 tahun, fisiknya sudah mulai berubah seperti orang dewasa.

 

Keterampilan motoriknya pun sudah siap dalam menerima pelajaran seperti menulis, menggambar, melukis, berenang, dan kegiatan atletik lainnya.

 

Aspek Bahasa

Tumbuh kembang anak usia sekolah 6-12 tahun kemampuan berbahasanya tentu sudah lebih baik. Mereka sudah menguasai sekitar 2.500 kata pada usia 6 tahun, dan 50.000 kata saat usianya menginjak 12 tahun.

Anak juga akan mulai aktif bertanya tentang sebab akibat dan waktu. Anak pun sudah bisa mengungkapkan ide dan gagasannya pada Anda juga orang sekitar.

Aspek Sosio-Emosional

Tumbuh kembang anak usia sekolah 6-12 tahun bisa dikatakan sebagai penentu apakah ia bisa berkembang lebih percaya diri atau malah rendah diri. Ketika masuk ke sekolah, maka ia akan masuk ke lingkungan sosial baru dan tentunya lebih luas. Dia tidak lagi berhadapan dengan orangtua, saudara atau keluarganya, tetapi anak-anak lain dengan beragam kepribadian.

Jika anak tidak dapat bersosialisasi dengan baik karena ia merasa tidak mampu, maka anak akan mengembangkan sikap rendah diri. Anak yang rendah diri ini tidak akan pernah menyukai belajar atau melakukan tugas-tugas bersifat intelektual.

Untuk itulah sebagai orangtua, Anda harus bisa menyiapkan anak agar benar-benar siap menghadapi lingkungan sekolah. Bisa dengan memasukkannya ke kelompok bermain ataupun taman kanak-kanak, karena di sini anak akan disiapkan untuk masuk ke pendidikan selanjutnya. Di kelompok bermain pun anak bisa belajar dan mengembangkan kemampuan bersosialisasinya.

Selain itu, orangtua pun harus mendukung anak dan menyemangati anak serta memotivasinya agar bisa berkembang lebih baik. Hindari juga memberikan kritikan yang berlebih, lalu galilah minat anak.

Bagi Anda yang ingin menggali minat anak sedari dini sehingga bisa membimbing anak lebih fokus, maka bisa mengikutkan anak ke tes analisa sidik jari. Melalui tes ini Anda bisa mengetahui kelebihan dan kekurangan anak sehingga bisa membantu mengembangkan kelebihannya serta mengatasi kekurangannya. Melalui tes analisa sidik jari ini pun Anda bisa mengetahui gaya belajar anak. Hal ini sangat penting diketahui agar Anda bisa mengajarkan anak lebih efektif.

 

Pastikan Anda hadir, membimbing anak agar tumbuh kembang anak usia sekolah 6-12 tahun ini maksimal serta berjalan positif bagi masa depannya.