Tips Cara Orang Tua Untuk Menanamkan Empati Pada Anak

Usia 2-5 tahun adalah usia yang tepat untuk menanamkan empati terhadap anak. Karena pada usia ini anak mulai mengenal dunia secara lebih luas dan mengalami peningkatan -self-control (Santrock, 2009). Pada tahap ini, seorang anak mulai sadar bahwa setiap orang memiliki perspektif masing-masing yang unik dan memiliki reaksi yang berbeda terhadap suatu situasi (Santrock, 2009).

Namun cara menanamkan empati tidak cukup dengan menasihati atau memberi wejangan saja, melainkan si kecil juga harus terlibat langsung saat proses pembelajaran atau istilahnya ‘Learning by doing”. Nah Mom, berikut ini 11 cara yang dapat dilakukan orang tua untuk menanamkan empati pada si kecil, dan membiasakan si kecil untuk berbuat kebaikan, agar si kecil tumbuh menjadi insan yang besar hati.

  1. Mengajaknya untuk ‘Bersahabat’ dengan Tuhan YME
    Membiasakan si kecil untuk berdoa, beribadah dan taat kepada Tuhan YME. Iman yang dibina sejak kecil, tentu saja akan memberinya landasan untuk melakukan kebaikan dan saling mengasihi terhadap sesama.
  2. Bermain imajinasi dan tumbuhkan empati.
    Gunakan imajinasi Anda untuk bermain peran bersama si kecil, selalu sebutkan kondisi emosi si tokoh yang Mom mainkan, misal “aku sedang senang.” atau “aku sedang sakit” dan lihat respon si kecil melalui peran yang sedang ia mainkan. Walaupun hanya permainan, tapi ini merupakan latihan bagi si kecil untuk bereaksi dan memberi respon terhadap kondisi orang lain.
  3. Mengajak si kecil untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
    Anak usia 2 tahun bisa mulai membantu mengerjakan pekerjaan ringan yang bermanfaat di rumah. Apabila anda memuji tindakannya,maka dengan senang hati ia akan membantu anda. Sehingga sikap mau membantu secara sukarela berkembang dengan sendirinya. Ini adalah awal yang baik baginya untuk memahami pekerjaan orang lain dan mau membantu secara sukarela.
  4. Membacakan cerita yang menumbuhkan empati.
    Membacakan cerita sebelum tidur sangat banyak manfaatnya, terutama dalam memperkuat ikatan antara orang tua dan anak. Gunakan juga kesempatan ini untuk menceritakan kisah teladan dan sarat akan nilai moral.
  5. Ajarkan si kecil untuk berteman.
    Si kecil yang baru berusia dini tentu belum cukup bertemu banyak macam orang selain lingkungannya. Sebaiknya orang tua mulai mengajari sejak dini mengenai perbedaan, misalnya ada yang berbeda keyakinan, ada yang orang yang pendek, ada yang tinggi, ada yang gemuk, ada kurus, ada yang kulitnya hitam, ada yang putih, ada yang difabel dan lain sebagainya. Lalu jelaskan kepada mereka bahwa banyak hal positif yang bisa didapat dari perbedaan, seperti ilmu dan pengalaman baru. Tujuannya adalah agar anak kita bisa saling merhargai orang lain walaupun memiliki perbedaan fisik atau pikiran. Kemudian saat ia bermain dengan temannya, apabila ia bertengkar, maka orang tua harus bisa memantau dengan bijak, dan inilah saat yang tepat bagi Mom, secara lembut dan positif memberikan gagasan pada si kecil agar mereka mau tulus berbagi.
  6. Menonton film anak bersama dan sampaikan pesan moralnya.
    Program-program televisi atau film kartun yang sudah anda pilih secara hati-hati dapat merangsang imajinasi si kecil akan nilai-nilai empati. Pendampingan anda saat menonton bersamanya, sekaligus dapat menelurkan aktivitas yang membangun. Tentu saja, anda harus cermat menyeleksi film mana yang patut ditontonnya atau tidak.
  7. Mengajaknya saat membeli hadiah untuk orang lain.
    Ajaklah anak anda berbelanja dan ikut memilih kado ulang tahun kakak atau temannya. Atau, tolonglah ia untuk membuat sendiri pekerjaan tangan sederhana sebagai hadiah. Katakan kepadanya, selembar kartu bergambar hasil karyanya, merupakan suatu pemberian yang tak ternilai harganya yang bisa diberikan kepada orang lain. Membicarakan tentang bagaimana kasih sayang anda terhadap keluarga atau teman-teman akan menumbuhkan pula rasa cinta dan perhatiannya yang tulus kepada mereka.
  8. Menjenguk orang sakit atau melahirkan.
    Jika penyakit teman atau famili tidak parah dan bukan penyakit menular, boleh saja anda mengajak si kecil ikut menjenguk. Membawakan ‘buah tangan’ bagi nenek yang sakit, atau memberikan hiburan di saat teman si kecil sakit dan menangis sedih, melibatkan rasa turut prihatin di dalam dadanya. Kelak, ia pun peka atas penderitaan orang lain.
  9. Biasakan si kecil mengucapkan 3 kata pusaka ini.
    Kelihatannya sepele, tapi ajaib sekali makna dari ketiga kata ini : “maaf”, “terima kasih”, dan “tolong”. Membiasakan anak sedari dini mengucapkannya akan membuatnya tumbuh menjadi anak yang kemampuannya memahami orang lain di atas rata-rata. Apalagi ditambah dengan kemampuannya mendengarkan. Wah, tentu ia akan menjadi pribadi yang ramah, hangat, dan dihormati orang lain. Buktikan saja!
  10. Memelihara hewan peliharaan atau tanaman.
    Bagaimana si kecil belajar bertanggung jawab memberi makan atau minum hewan peliharaannya adalah cara untuk belajar mengelola empatinya kelak. Termasuk hobinya bercocok tanam. ‘Berbicara’ dengan tanaman, memberinya pupuk dan tak lupa rutin menyiraminya, adalah langkah-langkah pembelajaran empati yang bisa diterapkan kepada si kecil.
  11. Jadilah panutan anak!
    Tak peduli si kecil sudah mengerti sepenuhnya atau tidak, namun anda bisa membagikan berita di Koran atau televisi padanya. Cerita duka anak-anak yang busung lapar, kehilangan orang tua dan rumah ketika gempa dan banjir hebat melanda, atau begitu banyaknya teman-temannya di negeri ini yang tidak bisa bersekolah karena tidak punya biaya, akan menggugah simpatinya. Apalagi jika anda mengajaknya mau membagi mainan atau pakaiannya kepada para korban. Tentu, anda sendiri harus menjadi panutan yang utama baginya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*